Rapat Direksi baru saja berakhir. Bob mulai bangkit berdiri dan
menyenggol meja sehingga kopi tertumpah keatas
catatan-catatannya.
"Waduhhh, memalukan sekali aku ini, di usia tua kok tambah
ngaco.."
Semua orang ramai tergelak tertawa, lalu sebentar kemudian,
kami semua mulai menceritakan Saat-saat yang paling
menyakitkan di masa lalu dulu.
Gilirannya kini sampai pada Frank yang duduk terdiam
mendengarkan kisah lain-lainnya.
"Ayolah Frank, sekarang giliranmu. Cerita dong, apa saat yang
paling tak enak bagimu dulu." Frank tertawa, mulailah ia berkisah
masa kecilnya.
"Aku besar di San Pedro. Ayahku seorang nelayan, dan ia cinta
amat pada lautan. Ia punya kapalnya sendiri, meski berat sekali
mencari mata pencaharian di laut. Ia kerja keras sekali dan akan
tetap tinggal di laut sampai ia menangkap cukup ikan untuk
memberi makan keluarga. Bukan cuma cukup buat keluarga kami
sendiri, tapi juga untuk ayah dan ibunya dan saudara-saudara
lainnya yang masih di rumah."
Ia menatap kami dan berkata, "Ahhh, seandainya kalian sempat
bertemu ayahku. Ia sosoknya besar, orangnya kuat dari menarik
jala dan memerangi lautan demi mencari ikan. Asal kau dekat
saja padanya, wuih, bau dia sudah mirip kayak lautan. Ia gemar
memakai mantel cuaca-buruk tuanya yang terbuat dari kanvas
dan pakaian kerja dengan kain penutup dadanya. Topi penahan
hujannya sering ia tarik turun menutupi alisnya. Tak perduli
berapapun ibuku mencucinya, tetap akan tercium bau lautan dan
amisnya ikan."
Suara Frank mulai merendah sedikit.
"Kalau cuaca buruk, ia akan antar aku ke sekolah. Ia punya mobil
truk tua yang dipakainya dalam usaha perikanan ini. Truk itu
bahkan lebih tua umurnya daripada ayahku. Bunyinya meraung
dan berdentangan sepanjang perjalanan. Sejak beberapa blok
jauhnya kau sudah bisa mendengarnya. Saat ayah bawa truk
menuju sekolah, aku merasa menciut ke dalam tempat duduk,
berharap semoga bisa menghilang. Hampir separuh perjalanan,
ayah sering mengerem mendadak dan lalu truk tua ini akan
menyemburkan suatu kepulan awan asap. Ia akan selalu berhenti
di depan sekali, dan kelihatannya setiap orang akan berdiri
mengelilingi dan menonton. Lalu ayah akan menyandarkan diri ke
depan, dan memberiku sebuah ciuman besar pada pipiku dan
memujiku sebagai anak yang baik. Aku merasa agak malu,
begitu risih. Maklumlah, aku sebagai anak umur dua-belas,
dan ayahku menyandarkan diri kedepan dan menciumi aku
selamat tinggal!"
Ia berhenti sejenak lalu meneruskan, "Aku ingat hari ketika
kuputuskan aku sebenarnya terlalu tua untuk suatu kecupan
selamat tinggal. Waktu kami sampai kesekolah dan berhenti,
seperti biasanya ayah sudah tersenyum lebar. Ia mulai
memiringkan badannya kearahku, tetapi aku mengangkat tangan
dan berkata, 'Jangan, ayah.' Itu pertama kali aku berkata begitu
padanya, dan wajah ayah tampaknya begitu terheran.
Aku bilang, 'Ayah, aku sudah terlalu tua untuk ciuman selamat
tinggal. Sebetulnya sudah terlalu tua bagi segala macam kecupan.'
Ayahku memandangiku untuk saat yang lama sekali, dan matanya
mulai basah.
Belum pernah kulihat dia menangis sebelumnya. Ia memutar
kepalanya, pandangannya menerawang menembus kaca depan.
'Kau benar,' katanya.
'Kau sudah jadi pemuda besar......seorang pria. Aku tak akan
menciumimu lagi.'"
Wajah Frank berubah jadi aneh, dan air mata mulai memenuhi
kedua matanya, ketika ia melanjutkan kisahnya. "Tidak lama
setelah itu, ayah pergi melaut dan tidak pernah kembali lagi.
Itu terjadi pada suatu hari, ketika sebagian besar armada kapal
nelayan merapat di pelabuhan, tapi kapal ayah tidak. Ia punya
keluarga besar yang harus diberi makan.
Kapalnya ditemukan terapung dengan jala yang separuh terangkat
dan separuhnya lagi masih ada di laut. Pastilah ayah tertimpa
badai dan ia mencoba menyelamatkan jala dan semua
pengapung-pengapung nya."
Aku mengawasi Frank dan melihat air mata mengalir menuruni
pipinya.
Frank menyambung lagi, "Kawan-kawan, kalian tak bisa
bayangkan apa yang akan kukorbankan sekedar untuk
mendapatkan lagi sebuah ciuman pada pipiku....untuk merasakan
wajah tuanya yang kasar......untuk mencium bau air laut dan
samudra padanya..... untuk merasakan tangan dan lengannya
merangkul leherku. Ahh, sekiranya saja aku jadi pria dewasa
saat itu. Kalau aku seorang pria dewasa, aku pastilah tidak akan
pernah memberi tahu ayahku bahwa aku terlalu tua 'tuk sebuah
ciuman selamat tinggal."
Semoga kita tidak menjadi terlalu tua untuk menunjukkan
cinta kasih kita....
Rabu, November 11, 2009
PERUBAHAN (By Rhenald Kasali)
"Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan). "
Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya, "ChaNge". Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Ditengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu. "Silahkan, siapa yang mau boleh ambil," ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.
Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.
Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. . Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.
Saya ulangi pesan Saya, "Silahkan ambil, silahkan ambil." Ia menatap wajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu. Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak, "Kembalikan, kembalikan!" Saya mengatakan, "Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya."
Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak. Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan? Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:
"Saya pikir Bapak cuma main-main ………… "
"Nanti uangnya toh diambil lagi."
"Malu-maluin aja."
"Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!"
"Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu ….."
"Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya. …"
"Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas….."
"Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang……. .."
"Saya, kan duduk jauh di belakang…"
dan seterusnya.
Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan) , tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja. Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah. Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa
depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras. Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras. Ia bisa menilai "gila" nya orang di sana satu persatu dan berbicara waras dengan Saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah ia merasa sama dengan mereka, ia pun protes. "Gila aja….ini kan gara-gara saudara-saudara Saya tidak mau mengurus Saya. Saya ini tidak gila.
Mereka itu semua sakit…..". Lantas, apa yang kamu maksud 'sakit'?"
"Orang 'sakit' (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkan Saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalu
mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari…..," katanya penuh semangat." Saya pun mengangguk-angguk.
Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama. Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari, Jadi omong kosong perubahan akan datang.
Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.
Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi tak banyak yang berani bergerak. Tetapi sekali bergerak, perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik. Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinny a hanya berwacana saja. Wacana yang kosong akan destruktif.
"Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya."
Get Started. Get into the game. Get into the playing field, Now. Just do it!
"Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja."
Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural. Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju.
Manusia pemenang adalah manusia yang responsif. Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah :
"Winners take action…they simply get up and do what has to be done…".
Selamat bergerak!
Rhenald Kasali
Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya, "ChaNge". Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Ditengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu. "Silahkan, siapa yang mau boleh ambil," ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.
Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.
Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. . Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.
Saya ulangi pesan Saya, "Silahkan ambil, silahkan ambil." Ia menatap wajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu. Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak, "Kembalikan, kembalikan!" Saya mengatakan, "Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya."
Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak. Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan? Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:
"Saya pikir Bapak cuma main-main ………… "
"Nanti uangnya toh diambil lagi."
"Malu-maluin aja."
"Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!"
"Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu ….."
"Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya. …"
"Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas….."
"Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang……. .."
"Saya, kan duduk jauh di belakang…"
dan seterusnya.
Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan) , tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja. Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah. Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa
depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras. Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras. Ia bisa menilai "gila" nya orang di sana satu persatu dan berbicara waras dengan Saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah ia merasa sama dengan mereka, ia pun protes. "Gila aja….ini kan gara-gara saudara-saudara Saya tidak mau mengurus Saya. Saya ini tidak gila.
Mereka itu semua sakit…..". Lantas, apa yang kamu maksud 'sakit'?"
"Orang 'sakit' (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkan Saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalu
mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari…..," katanya penuh semangat." Saya pun mengangguk-angguk.
Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama. Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari, Jadi omong kosong perubahan akan datang.
Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.
Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi tak banyak yang berani bergerak. Tetapi sekali bergerak, perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik. Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinny a hanya berwacana saja. Wacana yang kosong akan destruktif.
"Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya."
Get Started. Get into the game. Get into the playing field, Now. Just do it!
"Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja."
Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural. Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju.
Manusia pemenang adalah manusia yang responsif. Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah :
"Winners take action…they simply get up and do what has to be done…".
Selamat bergerak!
Rhenald Kasali
KISAH SEBUAH TAPLAK MEJA
Seorang pendeta muda dan istrinya ditugaskan untuk
membuka kembali sebuah gereja tua di daerah
pinggiran Brooklyn . Mereka tiba di daerah tersebut
pada bulan Oktober dengan penuh semangat.
Ketika mereka melihat gereja tersebut,
terlihatlah sebuah gereja yang sangat berantakan dan
membutuhkan banyak kerja keras. Mereka membuat
target bahwa semua harus selesai diperbaiki dan siap
digunakan untuk ibadah malam natal.
Mereka berdua bekerja keras, memperbaiki atap,
memplester dinding, mengecatnya, dan segala hal lain
untuk membuat gereja tersebut dapat digunakan
beribadah. Pada tanggal 18 Desember, gereja tersebut
sudah hampir selesai dan akan segera siap untuk
digunakan. Pada tanggal 19 Desember, hujan yang
disertai angin kencang turun selama dua hari.
Pada tanggal 21 Desember, pendeta tersebut segera
berangkat menuju gereja. Setibanya disana,
hatinya sesak dan pedih melihat hasil kerjanya yang
hancur. Dia melihat kerusakan terbesarnya adalah
atap yang jatuh dan mengakibatkan kerusakan pada
dinding gereja. Pendeta tersebut membereskan
kekacauan di lantai dan tidak tahu apa yang harus
dilakukan selain menunda ibadah malam natal. Ia pun
meninggalkan gereja menuju rumah.
Di perjalanan pulang, dia melihat sebuah bazar untuk
amal, jadi ia turun dari mobilnya untuk singgah dan
melihat-lihat. Kemudian ia melihat sebuah taplak meja
buatan tangan yang sangat indah dan ukurannya pas
untuk menutupi kerusakan di gereja. Maka ia pun
membeli taplak meja tersebut. Ia pun membeli taplak
meja tersebut dan membawa mobilnya kembali ke
gereja. Ketika tiba di depan gereja, ia melihat seorang
wanita paruh baya yang sedang mengejar bus dan
gagal! Salju mulai turun. Sang pendeta turun dari
mobilnya dan mengajak wanita tersebut untuk masuk
ke gereja untuk menunggu bus berikutnya yang akan
datang 45 menit kemudian.
Wanita tersebut duduk, dan pendeta sibuk memasang
taplak meja tersebut. Ketika selesai, wanita tersebut
bertanya di manakah pendeta menemukan taplak
meja tersebut.. Wanita tersebut kemudian bertanya
apakah di ujung kanan ada inisial EBG,
ternyata memang ada. Wanita tersebut bercerita
bahwa ia membuat taplak itu 35 tahun yang lalu di
Austria . Wanita tersebut kemudian menceritakan
bahwa sebelum perang, ia dan suaminya memiliki
keluarga yang bahagia. Kemudian Nazi datang dan
suaminya memaksanya pergi. Sang suami berencana
untuk menyusulnya seminggu kemudian,
namun ternyata tertangkap. Dan mereka tidak pernah
bertemu kembali.
Sang pendeta hendak mengembalikan taplak meja
tersebut, mengingat besarnya kenangan yang dimiliki
taplak meja tersebut. Namun wanita tersebut
menolaknya. Sebagai rasa terima kasih,
pendeta tersebut menawarkan untuk mengantarkan
wanita tersebut ke apartemennya.
Tibalah hari Natal . Ibadahnya indah, semua penuh
dengan semangat Natal . Pada akhir ibadah,
pendeta dan istrinya menyalami semua yang datang,
dan mendengar banyak dari mereka akan datang
kembali ke gereja tersebut. Kemudian sang pendeta
melihat seorang pria tua yang tetap duduk dan
memandangi taplak meja tersebut.
Sang pendeta mendekatinya, pria tua menanyakan
di mana pendeta mendapatkan taplak tersebut.
Ia menceritakan kisah yang sama dengan yang telah
didengar pendeta beberapa hari sebelumnya.
Pendeta kemudian berkata ia ingin mengajak pria
tersebut sedikit berjalan-jalan. Ia mengemudikan
mobilnya menuju apartemen yang didatanginya
beberapa hari sebelumnya. Ia membantu pria tersebut
menaiki tangga menuju lantai tiga dan pendeta
mengetuk sebuah pintu.. Kemudia pendeta tersebut
menyaksikan sebuah reuni Natal terbaik yang bahkan
tidak pernah ia bayangkan.
(Kisah Nyata - by Pastor Rob Reid)
Siapa bilang TUHAN tidak bekerja dengan cara yang
misterius...
Jadi, ketika jalan yang kau lalui terasa berat,
ingatlah aku disini mendoakanmu dan TUHAN akan
melakukan sesuatu dengan caranya yang misterius
untuk hasil yang terbaik.
"Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yg
lain,tanpa kita kehilangan semangat"
-Abraham Lincoln-
membuka kembali sebuah gereja tua di daerah
pinggiran Brooklyn . Mereka tiba di daerah tersebut
pada bulan Oktober dengan penuh semangat.
Ketika mereka melihat gereja tersebut,
terlihatlah sebuah gereja yang sangat berantakan dan
membutuhkan banyak kerja keras. Mereka membuat
target bahwa semua harus selesai diperbaiki dan siap
digunakan untuk ibadah malam natal.
Mereka berdua bekerja keras, memperbaiki atap,
memplester dinding, mengecatnya, dan segala hal lain
untuk membuat gereja tersebut dapat digunakan
beribadah. Pada tanggal 18 Desember, gereja tersebut
sudah hampir selesai dan akan segera siap untuk
digunakan. Pada tanggal 19 Desember, hujan yang
disertai angin kencang turun selama dua hari.
Pada tanggal 21 Desember, pendeta tersebut segera
berangkat menuju gereja. Setibanya disana,
hatinya sesak dan pedih melihat hasil kerjanya yang
hancur. Dia melihat kerusakan terbesarnya adalah
atap yang jatuh dan mengakibatkan kerusakan pada
dinding gereja. Pendeta tersebut membereskan
kekacauan di lantai dan tidak tahu apa yang harus
dilakukan selain menunda ibadah malam natal. Ia pun
meninggalkan gereja menuju rumah.
Di perjalanan pulang, dia melihat sebuah bazar untuk
amal, jadi ia turun dari mobilnya untuk singgah dan
melihat-lihat. Kemudian ia melihat sebuah taplak meja
buatan tangan yang sangat indah dan ukurannya pas
untuk menutupi kerusakan di gereja. Maka ia pun
membeli taplak meja tersebut. Ia pun membeli taplak
meja tersebut dan membawa mobilnya kembali ke
gereja. Ketika tiba di depan gereja, ia melihat seorang
wanita paruh baya yang sedang mengejar bus dan
gagal! Salju mulai turun. Sang pendeta turun dari
mobilnya dan mengajak wanita tersebut untuk masuk
ke gereja untuk menunggu bus berikutnya yang akan
datang 45 menit kemudian.
Wanita tersebut duduk, dan pendeta sibuk memasang
taplak meja tersebut. Ketika selesai, wanita tersebut
bertanya di manakah pendeta menemukan taplak
meja tersebut.. Wanita tersebut kemudian bertanya
apakah di ujung kanan ada inisial EBG,
ternyata memang ada. Wanita tersebut bercerita
bahwa ia membuat taplak itu 35 tahun yang lalu di
Austria . Wanita tersebut kemudian menceritakan
bahwa sebelum perang, ia dan suaminya memiliki
keluarga yang bahagia. Kemudian Nazi datang dan
suaminya memaksanya pergi. Sang suami berencana
untuk menyusulnya seminggu kemudian,
namun ternyata tertangkap. Dan mereka tidak pernah
bertemu kembali.
Sang pendeta hendak mengembalikan taplak meja
tersebut, mengingat besarnya kenangan yang dimiliki
taplak meja tersebut. Namun wanita tersebut
menolaknya. Sebagai rasa terima kasih,
pendeta tersebut menawarkan untuk mengantarkan
wanita tersebut ke apartemennya.
Tibalah hari Natal . Ibadahnya indah, semua penuh
dengan semangat Natal . Pada akhir ibadah,
pendeta dan istrinya menyalami semua yang datang,
dan mendengar banyak dari mereka akan datang
kembali ke gereja tersebut. Kemudian sang pendeta
melihat seorang pria tua yang tetap duduk dan
memandangi taplak meja tersebut.
Sang pendeta mendekatinya, pria tua menanyakan
di mana pendeta mendapatkan taplak tersebut.
Ia menceritakan kisah yang sama dengan yang telah
didengar pendeta beberapa hari sebelumnya.
Pendeta kemudian berkata ia ingin mengajak pria
tersebut sedikit berjalan-jalan. Ia mengemudikan
mobilnya menuju apartemen yang didatanginya
beberapa hari sebelumnya. Ia membantu pria tersebut
menaiki tangga menuju lantai tiga dan pendeta
mengetuk sebuah pintu.. Kemudia pendeta tersebut
menyaksikan sebuah reuni Natal terbaik yang bahkan
tidak pernah ia bayangkan.
(Kisah Nyata - by Pastor Rob Reid)
Siapa bilang TUHAN tidak bekerja dengan cara yang
misterius...
Jadi, ketika jalan yang kau lalui terasa berat,
ingatlah aku disini mendoakanmu dan TUHAN akan
melakukan sesuatu dengan caranya yang misterius
untuk hasil yang terbaik.
"Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yg
lain,tanpa kita kehilangan semangat"
-Abraham Lincoln-
POHON PAKIS DAN BAMBU
Alkisah tersebutlah seorang pria yang putus asa dan ingin meninggalkan segalanya.
Meninggalkan pekerjaan, hubungan sosialnya dan berhenti hidup. Ia lalu pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan Tuhan, Sang Maha Pencipta.
"Tuhan.", katanya. "Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang
baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah?"
Jawaban Tuhan sangat mengejutkan.
"Coba lihat ke sekitarmu. Apakah kamu melihat pakis dan bambu ?"
"Ya..", jawab pria itu.
"Ketika menanam benih pakis dan benih bambu Aku merawat keduanya secara sangat baik. Aku memberi keduanya cahaya. Memberikan air. Pakis tumbuh cepat di bumi.
Daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan.
Sementara itu benih bambu tidak menghasilkan apapun. Tapi Aku tidak menyerah."
"Pada tahun kedua pakis tumbuh makin subur dan banyak,
tapi belum juga ada yang muncul dari benih bambu. Aku tidak
menyerah."
"Di tahun ketiga benih bambu belum juga memunculkan sesuatu.
Tapi Aku tidak menyerah."
Di tahun ke4 masih juga belum ada apapun dari benih bambu.
Aku belum menyerah.", kataNya.
"Di tahun kelima muncul sebuah tunas kecil.
Dibanding dengan pohon pakis tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna."
Tapi 6 bulan kemudian bambu itu menjulang sampai 100 kaki!
Untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu 5 tahun!
Akar ini membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.
Aku tak akan memberi cobaan yang tak sangup diatasi ciptaanKu. ", kata
Tuhan kepada pria itu.
"Tahukah kamu, AnakKu, di saat menghadapi semua kesulitan dan
perjuangan berat ini kamu sebenarnya sedang menumbuhkan akar-akar."
"Aku tidak meninggalkan bambu itu. Aku juga tak akan meninggalkanmu. "
"Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.", kata Tuhan lagi.
"Bambu mempunyai tujuan yang berbeda dengan pakis. Namun keduanya membuat hutan menjadi indah."
"Waktumu akan datang. Kamu akan menanjak dan menjulang tinggi."
"Saya akan menjulang setinggi apa?", tanya pria itu.
"Setinggi apa pohon bambu bisa menjulang?", tanya Tuhan.
"Setinggi yang bisa dicapainya." , jawab pria itu cepat
.
"Ya, benar! Agungkan dan muliakan namaKu, dengan menjadi yang terbaik,
meraih yang tertinggi sesuai kemampuanmu, " kata Tuhan.
Pria itu pun meninggalkan hutan dan melanjutkan kehidupan yang nyaris ingin diakhirinya
Meninggalkan pekerjaan, hubungan sosialnya dan berhenti hidup. Ia lalu pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan Tuhan, Sang Maha Pencipta.
"Tuhan.", katanya. "Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang
baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah?"
Jawaban Tuhan sangat mengejutkan.
"Coba lihat ke sekitarmu. Apakah kamu melihat pakis dan bambu ?"
"Ya..", jawab pria itu.
"Ketika menanam benih pakis dan benih bambu Aku merawat keduanya secara sangat baik. Aku memberi keduanya cahaya. Memberikan air. Pakis tumbuh cepat di bumi.
Daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan.
Sementara itu benih bambu tidak menghasilkan apapun. Tapi Aku tidak menyerah."
"Pada tahun kedua pakis tumbuh makin subur dan banyak,
tapi belum juga ada yang muncul dari benih bambu. Aku tidak
menyerah."
"Di tahun ketiga benih bambu belum juga memunculkan sesuatu.
Tapi Aku tidak menyerah."
Di tahun ke4 masih juga belum ada apapun dari benih bambu.
Aku belum menyerah.", kataNya.
"Di tahun kelima muncul sebuah tunas kecil.
Dibanding dengan pohon pakis tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna."
Tapi 6 bulan kemudian bambu itu menjulang sampai 100 kaki!
Untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu 5 tahun!
Akar ini membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.
Aku tak akan memberi cobaan yang tak sangup diatasi ciptaanKu. ", kata
Tuhan kepada pria itu.
"Tahukah kamu, AnakKu, di saat menghadapi semua kesulitan dan
perjuangan berat ini kamu sebenarnya sedang menumbuhkan akar-akar."
"Aku tidak meninggalkan bambu itu. Aku juga tak akan meninggalkanmu. "
"Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.", kata Tuhan lagi.
"Bambu mempunyai tujuan yang berbeda dengan pakis. Namun keduanya membuat hutan menjadi indah."
"Waktumu akan datang. Kamu akan menanjak dan menjulang tinggi."
"Saya akan menjulang setinggi apa?", tanya pria itu.
"Setinggi apa pohon bambu bisa menjulang?", tanya Tuhan.
"Setinggi yang bisa dicapainya." , jawab pria itu cepat
.
"Ya, benar! Agungkan dan muliakan namaKu, dengan menjadi yang terbaik,
meraih yang tertinggi sesuai kemampuanmu, " kata Tuhan.
Pria itu pun meninggalkan hutan dan melanjutkan kehidupan yang nyaris ingin diakhirinya
Langganan:
Postingan (Atom)