“YANG KUKEHENDAKI ADALAH BELASKASIHAN, BUKAN KURBAN”
Rm. Sabat Salulu Nababan
Pada umumnya setiap manusia mengendaki keselamatan dalam hidupnya. Keselamatan itu bagi setiap orang tidaklah sama. Seorang materialistik akan berusaha menyelamatkan diri dari tagihan pajak, maka beusaha membuat laporan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Maka tidak heran jika budaya sogok menjadi merajalela dalam kehidupan manusia. Seorang yang takut akan neraka akan berusaha membangun kesalehan hidupnya dengan menjalankan kaidah agama dengan setia.
Panggilan untuk selamat adalah bagian rencana Allah untuk seluruh dunia. Inti keselamatan Allah dalam hidup manusia tampak dalam kegembiraan dan kebahagiaan hidup manusia. Allah tidak menghendaki kutuk dan hukuman bagi manusia, tetapi manusia memilih hukuman untuk dirinya dan bahkan menghukum dirinya jika memilih menjauhi Allah sebagaimana terjadi pada hidupmanusia pertama.
Kesetiaan dan cinta Allah yang takterbatas senantiasa mengalir tanpa henti. Nabi Hosea menyebutkan bahwa kasih Allah itu bagaikan fajar. Fajar yang selalu hadir menerangi dunia dengn menghalau egelapan malam,tetapi asih manusia dilukiskan bagaikan embun pagi. Embun pagi yang cepat menghilang dan menguap dengan panas, demikian juga kasih manusia dapat pudar karena aneka penderitaan dan perjuangan yang seharusnya menumbuhkan ketekunan atau karena ketidak pastian yang seharusnya menumbuhkan pengharapan.
Paulus kembali mengetengahkan teladan hidup Abraham sebagai bapak orang beriman untuk meneguhkan pengikut Kristus supaya berpasrah diri pada penyelenggaraan Tuhan dan tetap yakin bahwa Tuhan senantiasa setia membimbing umat-Nya. Dalam kemustahilan menurut pandangan manusia, tetapi penyelenggaraan Allah jauh melampaui batasan perkiraan manusia.
Panggilan untuk selamat bagi manusia berdosa semakin nyata dalam kehadiran Yesus dalam rupa manusia dan hidup di tengah dunia yang berdosa. Panggilan Matius dari latar belakang hidupnya yang tidak terpuji di tengah masyarakat menjadi kabar gembira agar kita tidak takut membuka pintu hati menjamu Yesus yang menjadi tamu jiwa kita. Matius mengakui dengan jujur segala perbuatannya dan dengan sikap yang tidak malu-malu Matius mau membaharui diri dengan meninggalkan kebiasaan yang tidak berkenan bagi Tuhan. Keterbukaan tawaran keselamatan yang dibawa Yesus membawa pertanyaan bagi orang yang menganggap diri benar dengan menjalankan ritualistik agama. Orang-rang Farisi memandang bahwa tindakan Yesus makan bersama orang berdosa tidak tepat. Orang berdosa harus dijauhi dan dihindari bagai menghindari penyakit yang menular.
Tindakan Yesus mau bergaul dengan orang berdosa menjadi tanda kasih agung-Nya untuk menyelamatkan manusia. Manusia tidak seharusnya dijauhi karena dosanya, tetapi dirangkul dan disembuhkan karena manusia adalah citra Allah yang rusak karena dosa, maka Yesus datang untuk memperbaikinya, membaharuinya bahkan memberikan diri-Nya untuk tebusan dosa manusia. Bagi kitalah cinta Allah itu tetap hadir bagaikan fajar. Apakah fajar kasih Allah itu akan kita sambut dengan gembira, atau kita tetap bersembunyi dibawah selimut kekhawatiran hidup?
Menyambut fajar kasih Allah bukan dengan ‘menyogok’ Allah dengan pesembahan-pesembahan atau derma-derma dengan tujuan agar dibebaskan dari hukuman. Kita juga harus mempertanyakan apa yang kita persembahkan kepada Allah. Sudahkah kita mempersembahkan yang terbaik dalam hidup kita kepada Allah? (Bagimana mungkin yang terbaik, kolekte sayapun yang paling kecil dan paling kusut!) Bukan persembahan yang dikehendaki Allah, tetapi belaskasihan. Bukan kita yang menghantar persembahan kepada Allah, tetapi sekarang Allahlah yang mengantar persembahan kepada kita yakni kurban Kristus di Altar. Mari kita sambut tanda kasih Allah yang agung itu agar kita dikuatkan untuk berbagi kasih dalam hidup ini. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar